Wednesday, April 23, 2014

Rajut 2


Kelindan bertaut
Benang dirajut
Duri hidup bertelagah
Kadang memang bergelombang
Uji temali
Hati berdarah dikail jarum bercabang
Sembilu kata berpura
Tegalah melangkah
Terus mengait 
ke hujung takdir


24 April 2014





Saturday, November 2, 2013

Kasih Ibu

Seperti titis embun
Gugur sejenak
Bersambut mentari
Tanyalah
Angin
Tapi malaikat penyelamat
Lebih tahu
Hanya kasih ibu
Kekal di kalbu

Memberi restu
Ibunda
Kami nikmati kasih
Biar jauh
Jarak berlalu!

5.5.1929 - 23.10.2002

Friday, May 24, 2013

Gembira Guru


Bila seorang guru membaca
ia ingin menyampaikan cerita
ilmu dikutip untuk mengembang nurani
akal budi
untuk kita berkongsi

Kenapa keruh wajahmu
datang mengeluh
esei tidak siap
malas melakukan kajian lapangan
hanya terperam di pustaka
mengutip setiap halaman buku
bukan mengolah dengan akal sihatmu
marah pula markah tidak sampai ke paras tertinggi
tetapi kau seorang pelajar kami
sudah jadi menteri
lantaran bijak berperi
mematah setiap hujah!

Ya Gembira seorang guru
di halaman jiwa yang murni
menjalin akal membina negeri ini
kerana Allah Maha Penentu
jangan kau lupa pintu
pulang ke rumah janji
yang sudah dipetri
itulah Izin-Nya
Penuhi !

Ikrar bukan di lidah
tapi di halaman Kitab
yang akan di hisab!

(kesan Setelah PRU 13)

5 -20 Mei 2013



Mengenang Suara Puisi Sasterawan Negara Dato Usman Awang 2011

 
Kadang-kadang kita tersentak apabila
badan NgO asing yang bersikap terbuka
untuk bersama meraikan hari kelahiran tokoh bangsa
yang berjasa.
Maka muncullah berbagai ragam gaya
wajah anak Malaysia
membaca, melakon dan menarikan puisi
Sasterawan Negara Dato Usman Awang
anjuran Soka Gakkai Malaysia
18 September 2011
 
 

Monday, May 13, 2013

Si Kelopak Hati

 Bunga Hati Ungu

kadang hatimu berkelopak ungu
sendu terharu
kau harus merelakan
segala dugaan
jangan  biarkan lara mencengkam dada
masih ada mentari
menyinari warna baru
merah jambu atau putih embun
kau adalah bunga
di hatimu sendiri !

2012 - 11 Mei 2013

Thursday, March 22, 2012

Wednesday, March 14, 2012

GEMA BAHTERA TanPe (1)

1.  KAU MASIH DI TEBING ITU

i.

KUTAHU  matamu masih melihat aliran sungai ketika petang begitu tenang dan ceria. Itulah pesanmu tiba di tengan malam. Aku sudah melelapkan mata, hingga terkejut dengan gerak pesanan. Malam terasa dingin oleh wap pendingin. Kucapai selimut, menutup kakiku yang mula kebas oleh dingin mencengkam. Kucapai segelas air di meja kecil sebelah sisi katil, melegakan tekak kering malam. Ku tekan skrin samsung, tertebar baris ayat yang dikirim jauh beribu batu..." sayang aku sekarang di tebing sungai, petang musim semi sudah meransang panas gerimis, ceria dan cantik. Alangkah indahnya kalau kau ada di sisi, tepat waktu ini..."

Ah mimpi gila. Zaman sudah berkelopak jauh  meninggal musim remaja di rantau orang. Musim itu kau tergesa belayar tanpa mengucap sebarang tanda akan kembali menemuiku. Setelah  menuruni tangga dek bahatera aku menoleh dan melihat kau melambai dan melaung namaku..." Ita, aku sayang kamuuuuuu".  Suaramu tenggelam dalam deru cerobong kapal. Kapal mula menderu, ombak beriak aku harus segera meninggalkan  pelabuhan Tanjung. Tapi aku masih ingin dia melaung lagi " Ita tunggu aku pulang...." . Tidak ada tidak ada lauangan suara begitu. ......

ii.

" Kenapa kau tidak cari aku di kota J "
" Kenapa kau juga tidak cari aku di Y ? "

Pesan saling bertukar ganti . Aku sudah di rimba Melimau sedang mengumpul serpihan ikatan akar hutan yang kami kumpul semiggu di rimba. Kami kumpulan keluarga menemani sepupuku seorang pengumpul herba hutan, sedang megumpul data anika kulit kayu, akar, daun kering dan bunga yang gugur, kerana sistem lestari alamnya dia tidak akan merosak tumbuhan.

 " Kita hanya mengutip kulat,  kulit daun kering yang gugur. Bahan itu akan kita buat uji kaji, dan kakak kita ini akan menyusun puisi klasik gurindam dan pantun bukankah begitu , kakakku...oh pesanan datang lagi dari mana tu... haaa" 

" Kata kawan-kawan kita di kota J, kau banyak pacar di sana?"
" Pacar? oh otak nakal yang cemburu  saja "
" Ok, itu masa lalu, kita putar cerita..."
"Apa?"
" Kenapa Ita tidak bertanya, ' do you missed me?"
" Haaa"
" Ya spring yang dingin 8-10 *C, you masih sembunyi di taman bunga
dan udah ceria tidak lari sembunyi lagi bukan ?"
" Ya petiklah desi liar di kakimu tu bertebar di celah rumput pagi "
" Okay kupetik senyumanmu & kusimpan di saku kenangku ".

" Kak ...sini, lihat apa yang saya jumpa "

Aku terkejut, menutup buku samsung. Terkejar ke arah adik saudaraku yang telah menjumpai sesuatu . Apa? 

" Nih. lihat, Mak katak dobot, besar, sedang mengandung, kan kakakku suka katak?"
Oooh aku terkelu sendiri menyambut lelucon Jo ahli sains biologi sedang menatang katak dobot besarnya hampir sebesar bola. Ya Rabbi.

" Nikha tunggu aku di rimba sekarang. Bukan di Taman Bunga " 
Klik...
(bersambung ke iii)
15 Mac 2012.    



Monday, March 12, 2012

MAWAR TAMAN ANGLIA (Surat Dari Awan 24)

Mawar Taman Anglia


Kau tetap setia
biar beralih musim
akar renikmu jauh ke bumi
deru angin bergelombang
ada tangan yang membelai
membuang sisa telur serangga
mencantas ranting kering.

Kau muncul lagi
di musim yang dijanji
gerimis musim semi
aku datang
memberi ciuman
dari hati bak sunti setia
menyusunmu di meja hias
kelopak yang gembira
makin semarak wangi
dalam cahaya purnama

Dialah  yang memberi nyawa
hidup di musim berbeza
cinta setia
pasang kekasih purba!

Megingatimu Anglia
13 Mac 2012

Di Tepian Thames Musim Semi

Di Tepian Thames Musim Semi


1.

Kau tiba di musim semi
deraian gerimis dan angin menumbuh
pucuk maple dan lime muda
kau tidak melihat bayangku melintas
di seberang Thames sana .

11.
Masa lalu menghimpun doa kembara
kala aku berlari dalam deraian gerimis
rambut  berlindung di bawah topi
kenapa kudengar

seperti tidak terlepaskan
angin hati meronta
tapi jangkar sudah diangkat 
dan kapal bergerak
kita semakin jauh
hanya taufan  menyimpan keluh
mengikat genggaman akhir
sekian batas waktu
belayarlah helangku! 

1V.
Tiba juga kabarmu
sudah di situ
tempat aku duduk di bangku
aku tahu
surat  itu tiba
walau terlambat
meratah usia
cinta tetap
meratib doa!

13 Mac 2012


Wednesday, February 8, 2012

MEMBACA GERAH SENJA (Surat Dari Awan 22)

Membaca Gerah Senja - 22

BIAR
Aku membaca
surat senja ini, Nikha
jangan ketawakan angin  menyusun huruf
lirih ketawamu 
terlalu senja kala lili kembali wangi
gelepar ketilang  tersiat sayap luka.


Kita pembaca sobek surat awan
melantun libasan  renyai
menikam kaca jendela
terus kubaca
larik garis canda bibir
rambut celahan putihmu
bergelombang
ditiupi angin senja
lupakanlah!


Aku akan masuk ke pintu awan
menelan kilau emas matahari
langit merangkulku
hanya bayangan
dalam dakapanmu!

Cukuplah
kita tetap bersama
membaca khazanah huruf
menyatakan
' kata-kata ini bukan dusta!'
sudah tercatat lama
AllahuAkbar.


Senja di Rimba Nilam
8 Feb 2012



@SZI , Lidah Awan, Benang Bulu 2009

Wednesday, December 21, 2011

Dinihari Tiba - Surat dari Awan 21

Dinihari Tiba
(NizM)

Kudengar kesuburan air
menitis di kelopak dinihari
jendela angin terkuak
doamu ku tahu tiba mendadak.
Apakah makna hari
dengan bilangan angka
akulah  daun semakin luruh
ranting rapuh
tetap saja akar melingkar kukuh.

Kau kirim surat angin
pertama mengetuk langsir
tembus bersama zikir takdir
Kau tiupi roh itu
kamipun bangkit
kutahu akan tiba detik
mata dan bibir terkatup-kelu
kecuali Setelah Kau tebar keArifan
SyahadahMu ! Allahuakbar


Bangi-Gombak
17-21 Diseber 2011

Pago-pago

Sejak Kau kabar deru angin jauh
lelaki muda bermukim di bumi salju
apakah yang di bawa datang
detik pulang, siapkah si bujang!

Inilah angin badai Tenggara
libas tengkujuh  bulan rusuh
berlaga mentari tidak jenuh bersalam
dia membenam  rindu dendam.

Kusam langit
tetap perabung berkait
lentuk unggas melingkar
denyutan kasih  tumbuh
di mata bangau mematah lidah angin
bujang bertualang pulang
asap dupa dan perabung ibunda
menyambut kau tiba.

Siti Zainon Ismail
Disember 2011

skesta A.Latif Mohidi, Dewan Sastera, 1970an 

Wednesday, October 26, 2011

LAZUARDI - BERI AKU LIMA DETIK

Nota  buat Nikha

1,
Langit biru mendekap sayap laut
Lazuardi berjanji
Lihatlah langit itu
Dia Ada
menggemggam bunga karang cinta.

2.
Entah gelora badai apa
Lazuardi hilang kemudi
Allahuakbar. UjianMu juga
Doa langit
kembalilah Bahtera belayar tenang

3.
Tangis Langit biru
mendakap sayang camar mimpi
menemani dia pergi
syukurlah kalau kembali


26 Oktober menjelang Maghrib Akhir Gombak
18.58

Tuesday, October 25, 2011

BISIKAN ZAITUN - Surat Dari Awan 18

1.
DARI jutaan pilihan
kau adalah butiran  zaitun di musim  panen
ketika camar laut tiba di pantai
terbang landai ke perbukitan
meriahnya kehidupan
berzikir pelangi selepas hujan
katakan padaku, wahai Perwira  Arif  
siapakah yang menyeru
melambai bersama Azan
setelah bahteramu merapat
dan jangkar dilabuhkan
kau terpanah
oleh  kilaun zaitun
ungu kehitaman
berminyak manis hidangan
siapa menunggu
 dengan  gelas kosong
yang harus kau isi.

ii

Itulah Bisikan Kasih
menuju ke Lorong  Abadi
percayalah
dikau si mata Zaitun
basah wajahmu
dalam lumuran hujan zamzam
Serulah
Dia menyambut
tanpa ragu 
dekapan bunga hati 
di pangkuan Sejadah
sejak dinihari ke senja  
menyambut deruan syahadah
jangan lalaikan manisku
dengan rusuh uji
berangkatlah
dengan Senyuman
Bisikan Abadi
Tetap Menanti


 Melati Gombak
24-25 Okt 2011 



Friday, October 21, 2011

TITIS LAZUARDI MU - Surat dari Awan 17


Titis Lazuardi Mu

Sungguh Malam ciptaanMu
bintang-bintang berbinar
bulan tanpa warna
 kecuali  bias matahari
kita mengkaguminya kilauan
berbisiklah malam 
tanpamu aku adalah kegelapan
ditakuti bidadari
setelah  bintangMu
memerciku  lautan
 Lazuardi pun 
bermain gesekan sayap ikan
kilau  lokan malam
bersama air mata takdir
berzikir 
tak jenuh 
bermainan janji
Kau Sang Pencipta
 kami  makhluk pelupa
benarkan kami sujud dinihari
bertasbih sepanjang malam
tanpa keluh kesah
hanya sejadah yang basah.

Lazuardi malam
kau iringi getar hati
memberi genggaman setanggi
mengembang jauh ke langit
menjunam ke bumi
Lazuadiku bertunjung biru
sarat akar kaligrafi
ucaplah
Tiada Tuhan yang disembah
Melainkan Allah
Subhanallah
izinkan aku
melangkah.



21-22 Oktober 2011 

Thursday, October 20, 2011

GEBAR MALAM - Surat dari Awan 16

Hingga  jauh malam
gebar pun mendakapmu
entah dini  ke berapa
kau si renik tahu wajah
 kesendirianmu
menempel di kejap batu
angin menyimbah nyilu
gerimis hujan badai
memain sayapmu
tidak kau kelu atau lesu.

Kau sendiri
adalah gebar
untuk unggas dan ulat  batu
gelinting pasir terpelanting
disepak kuda pahlawan
menyentuh urat daunmu
ketika rengkek kuda Pompie
menyerbu
menerjang musuh di puncak
yang alah
terpelanting, tersimbah darah
darah itu mengalir,
luka mencair ke urat senimu
Kau si cermin hati
tersenyum
itu aku
menjadi gebar kasih
 tertebar setiap kau seru
Seruan Mu
tetap bergumul Rindu.

Nikha
Kau ada
dalam gebar kasihku
tunggu  aku di puncak
Rahmah
memaut erat
genggaman Aksara Adam
hanya BisikNya
menyatukan pasangan itu
kembali!
 kembali mereka
 dalam
kasih  batini
*

18-20 Oktober 2011

Monday, October 17, 2011

DEMI MILIKMU YA ILAHI - Surat dari Awan 15


Sekecil  manapun
ia tetap milikMu
aku hanya musafir
daif dengan balutan kafan
tanpa sulaman hiasan
bawalah jasad ini
ruh yang lampung
ingatan kudus
butiran pasir diri
debu-debuh kelabu
darah hitam kering berbekas di jalan
kembara yang lelah
aku pasrah .

Segala harta
kosong
kuserah ke pemiliknya
jangan Kau Uji dengan Berat Janji
Janji kosong segala pembohong musuhMu
segala penggoda berhasrat dengki
aku ingin senyap dalam dakapan sunyi
aku ingin menggigil di malam dinihairi
menatap bulan Zulhijjah
deru angin Arafah sebelum ke Jambrah
melempar kedegilan Sang Ingkar 
sepanjang zaman
tetap aku kapas terapung
terbang melayang
benarkan aku singgah
di Jabar Rahmah
di Mina
janjiMu ku Kutip Berkilauan tasbih
takkan kupalit gelap gulita
atas Cinta Benar Kau
di lubuk Hati
hanya JannahMu' 
yang setia  menerima 
Kasih Abadi.


Bandar Baru Bangi
17-18 Okt 2011

Sunday, October 16, 2011

NIKHA, RINDU SELALU ADA - Surat dari Awan 14

Merentas laut di bawah lengkung langit 
gelombang awan, Kau tetap Ada
serulah aku berkait duri
Kau Pilih juga
si gembala luka
Nikha, Rindu selalu ada
Dekat OlehNya
pergi aku kerana Rindu Satu !

16-17 Okt 2011

 selepas subuh perjalanan ke Baitul Maqdis
@szi. Mac 2011


DAHAN RINDU - Surat dari Awan 13

Dahan Rindu


Setelah hujan malam
terasa ombak menderu
wajah haru kami menerpa
witir dinihari menggema
kenapa kau tidak bersama ku
memintal tali khemah Arafah
menghitung  bintang  Zulhijjah.

Aku si  gembala iman
masih tersisa
derasnya pacuan cemeti
Ya Qayyum jangan uji Dahan Rindu
Yang masih Kau Seru
berdetak  di kalbu !

Dahan Pusaka Ibunda @szi 2010

 


Dinihari Masjid Hasanah
Bandar Baru Bangi
15-16 Oktober 2011
17-18 Zulkaedah 1432

Friday, October 14, 2011

Al Fatihah

Ke Jalan Bayam, Rumah no 48000

Kota Bharu kuredah lagi. Kami berangkat dengan perasaan kenangan yang sukar dicatat nikmat rindu masa lalu. Naik Keretapi Ekspress Wau ekspress malam - apakah yang cari? Masa lalu dengan kenderaan keretapi asap dari batu arang. Cepatnya harian dan waktu. Alhamdulillah, kaupun datang lagi mencari stesen Palekbang. Tapi itulah cerita Hesmel, 40 % stesen keretapi sudah dibongkar dinding dan atap genting lama - sudah berganti tiang dan tembok batu. Stesen Palekban? Keretapi tidak berhenti di situ. Kau boleh di Wakaf Baru atau terus ke stesen akhir di Tumpat.

Ya jeti dan feri tidak ada lagi. Tapi kau harus terburu-buru ke Jalan Bayam. Siapakah yang cari. Al Fatihah, sungguh rindu mencengkam. Kau susuri rimbun lalang, mencari rumah abadi gurunya Seniman Negara. Ya Allah, puterinya Shikin juga terkial-kial menguis lalang mencari pusara Bunda yang sudah sudah dirimbuni lalang. Ya, yang pergi tetap pergi aku terlonta dalam panas siang, hanya doa hanya Al Fatihah semoga  dikau damai di rumah Abadi dicucui RahmatNya. Amin.